Mungkin Anda pernah mendengar tentang saudara kembar memiliki semacam telepati. Tak hanya kesamaan DNA, penampilan yang mirip, atau perilaku yang mirip, cara saudara kembar yang tampak terhubung secara misterius pada tingkat yang lebih dalam membuat kita penasaran sekaligus bingung. "Ada banyak klaim dan mitos unik yang terus beredar tentang anak kembar," kata Joanne Broder, seorang psikolog praktisi, anggota American Psychological Association, dan seorang ibu dari anak kembar. Namun, salah satu kesalahpahaman yang paling sering terjadi adalah telepati kembar—sebuah ikatan ekstrasensori antara saudara kembar yang melampaui ruang dan waktu. Meskipun banyak anekdot di dunia nyata, bukti ilmiahnya masih sulit dipahami. "Meskipun bukan 'telepati', sungguh menarik betapa dalamnya kepekaan anak kembar terhadap emosi dan kebutuhan satu sama lain," kata Tania Johnson, seorang psikolog dan salah satu pendiri Institute of Child Psychology di Alberta, Kanada. Lantas bagaimana penjelasan di balik mitos 'telepati kembar' yang sebenarnya menurut sains? Telepati kembar Telepati kembar adalah kepercayaan bahwa saudara kembar—terutama yang identik (monozigot)—dapat merasakan perasaan, pikiran, atau sensasi fisik satu sama lain dari jarak jauh tanpa menggunakan kelima indra. Menurut Johnson, orang-orang yang yakin dengan adanya telepati kembar ini menggambarkannya sebagai semacam "koneksi batin", sebuah kesadaran naluriah yang mungkin dapat memperingatkan salah satu saudara kembar akan bahaya, mencerminkan rasa sakit yang dialami saudara kembar lainnya, atau memicu pikiran yang sama pada saat yang bersamaan. Anekdot-anekdot lainnya bisa lebih dramatis lagi. Misalnya saja, seorang saudara kembar merasakan nyeri tajam di lengannya tepat ketika lengan saudara perempuannya patah di tempat yang jauh. Kembar lainnya dicekam ketakutan mendadak tepat saat mobil saudara kembarnya mengalami kecelakaan. Tumpang tindih mental ini bisa begitu kuat, kata Nancy Segal, direktur Twin Studies Center at California State University, Fullerton. Para ilmuwan biasanya memandang gagasan ini melalui sudut pandang extrasensory perception (ESP) atau persepsi indra keenam, yang mana pikiran dan perasaan dikatakan dapat ditransmisikan tanpa masukan dari pancaindra. Beberapa berteori bahwa ikatan emosional dan biologis yang sangat dekat pada anak kembar dapat berfungsi sebagai saluran bagi transmisi mental tersebut. Meskipun kisah-kisah tentang telepati kembar ini telah ada dari zaman dulu dan banyak orang tertarik, namun hal ini tidak pernah benar-benar memiliki dasar ilmiah yang kuat. Segal menekankan bahwa mereka harus bergantung pada temuan ilmiah yang benar-benar ada, bukan hanya pada cerita atau anekdot. Baca Juga: Mengapa Jumlah Bayi Kembar Meningkat Meski Angka Kelahiran Turun? Pandangan sains mengenai telepati kembar Membuktikan—atau menyangkal—telepati kembar tidak pernah mudah. "Belum banyak penelitian terkini tentang subjek ini," kata Broder. "Meskipun topik ini belum sepenuhnya selesai atau terbantah, dinamika kembar itu rumit." Namun, beberapa penelitian tetap mempertahankan minat pada topik ini. Sebuah studi percontohan tahun 2013 di Journal of Scientific Exploration menguji satu dari setiap pasangan kembar identik dengan rangsangan mendadak seperti suara keras atau panas, sambil memantau respons fisiologis kembar yang lain. Pada satu dari empat pasangan, kembar yang tidak diberi rangsangan menunjukkan respons yang dianggap "di atas kemungkinan kebetulan." Studi di Denmark setahun sebelumnya menghasilkan temuan yang serupa—meski sifatnya masih hanya mengisyaratkan dan belum bisa menjadi bukti pasti. Upaya lain—termasuk survei yang dilakukan oleh Society for Psychical Research (SPR) dan studi elektroensefalogram terhadap pola gelombang otak—telah mencatat korelasi tertentu antara saudara kembar, tetapi tidak ada yang secara meyakinkan menunjukkan komunikasi telepati. Bahkan pada temuan yang paling menarik sekalipun, penelitian lanjutan sering kali gagal mereplikasi hasilnya. "Dan banyak penelitian sama sekali tidak menunjukkan adanya hubungan telepati," kata Johnson. Sebagai contoh, dalam eksperimen terkenal yang dilakukan psikolog Susan Blackmore pada tahun 1993, para kembar diminta untuk mengirimkan gambar yang dipilih secara acak dalam kondisi terkontrol. Hasilnya, menurut kesimpulan Blackmore, hanya kebetulan. Ketidakkonsistenan antar-studi seperti itu sering kali "bermuara pada betapa sulitnya mengukurnya," kata Johnson. "Dan ada konflik tambahan ketika antusiasme berbenturan dengan sains." Pada akhirnya, "sebagian besar penelitian tidak menemukan bukti ESP, dan beberapa penelitian yang menunjukkan temuan signifikan belum direplikasi," kata Segal. Singkatnya, "tidak ada bukti ilmiah yang kredibel bahwa telepati kembar itu ada." Kehidupan bersama, bukan pikiran bersama Jadi, mengapa begitu banyak saudara kembar percaya bahwa mereka telah mengalami telepati? "Ada penjelasan yang lebih baik dan lebih beralasan daripada ESP," kata Segal. Sebagai permulaan, anak kembar biasanya tumbuh di lingkungan yang sama, dengan pengasuh, pengalaman, rutinitas, kelompok sebaya, dan pengaruh budaya yang sama. Mereka juga memiliki kesamaan sifat genetik, gaya keterikatan, dan kecenderungan temperamental. Baca Juga: Pengorbanan Manusia Suku Maya, Benarkah Anak Kembar Jadi Incaran? Karena faktor-faktor tersebut, ketika anak kembar merasa sedang mengalami telepati, kemungkinan besar mereka hanya menunjukkan "ikatan komunikasi, bukan membaca pikiran satu sama lain," kata Broder. Johnson sependapat, dan mencatat bahwa apa yang orang sebut telepati seringkali berakar pada "ikatan emosional yang mendalam dan pengalaman bersama yang dialami anak kembar saat tumbuh dewasa." Hal ini dibuktikan dalam penelitian yang menunjukkan bahwa anak kembar identik yang dibesarkan bersama seringkali mengembangkan gaya kognitif yang hampir tidak dapat dibedakan. Dengan kata lain, "jika dua orang memiliki pemicu emosional, kebiasaan sosial, dan pengalaman yang sama, mereka akan merespons dengan cara yang sama," kata Segal. "Itu bukan membaca pikiran—itu psikologi."  Bahkan kembar yang dibesarkan terpisah pun bisa menunjukkan kemiripan yang mencengangkan. "Ketika kembar identik dibesarkan di lingkungan berbeda, mereka tetap sering memilih benda atau kegiatan yang mirip di lingkungan masing-masing," kata Segal. Hal ini mungkin terjadi karena mereka "secara genetik memiliki kecenderungan" untuk membuat pilihan serupa ketika diberikan pilihan yang mirip, jelasnya. "Bahkan hal ini bisa menimbulkan kesan keliru seolah-olah ada ESP." Faktor lain adalah bias retrospektif (hindsight bias). Ketika klaim telepati kembar diselidiki, sering kali ditemukan bahwa ingatan tersebut telah terdistorsi setelah kejadian. Seorang kembar mungkin mengatakan "sudah tahu" sesuatu hanya setelah diingatkan tentang peristiwa yang mereka alami bersama—fenomena yang oleh para psikolog disebut sebagai retrospective falsification (pemalsuan retrospektif). Meskipun ada penjelasan yang logis dan temuan ilmiah terkini yang menunjukkan bahwa telepati kembar lebih merupakan mitos daripada kenyataan, "ilmuwan tetap harus berpikiran terbuka terhadap peristiwa yang suatu hari mungkin membuktikan adanya telepati kembar," kata Segal. "Namun, hari itu tampaknya masih sangat jauh—jika memang akan tiba." ---Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranala WhatsApp Channel https://shorturl.at/IbZ5i dan Google News   https://shorturl.at/xtDSd. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat.