Belum lama ini banyak beredar konten di media sosial yang menyebut bahwa memeluk pohon bisa meredakan stres. Widya Eka Nugraha, dokter sekaligus dosen Fakultas Kedokteran IPB University, membenarkan bahwa memeluk pohon memang bisa meredakan stres ringan jika dilakukan dalam konteks forest bathing atau terapi alam. “Sebagian besar penelitian terkait pengaruh pohon terhadap stres dilakukan melalui setting forest bathing, bukan hanya dengan memeluk pohon semata,” ujar dr Widya. Sebaliknya, ia mengatakan, jika dilakukan di luar konteks forest bathing, hal tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut. “Belum cukup bukti ilmiah yang mendukung manfaat memeluk pohon secara terpisah dari praktik forest bathing,” tegasnya. Forest bathing—juga dikenal dengan istilah sylvotherapy, tapa hijau, atau mandi hutan—merupakan aktivitas menyeluruh yang melibatkan berjalan di hutan, menghirup udara segar, menyentuh pohon, hingga melakukan meditasi kesadaran penuh (mindfulness). “Kalau memeluk pohon dilakukan dalam konteks ini, banyak penelitian menunjukkan efek positif dalam meredakan stres,” terangnya. Widya menyebut manfaat memeluk pohon dalam forest bathing dapat terjadi melalui beberapa mekanisme, antara lain stimulasi sensorik, pelepasan hormon oksitosin, dan paparan senyawa alami dari pepohonan seperti phytoncides. Aktivitas ini juga dapat memicu sistem saraf parasimpatis yang menimbulkan rasa rileks dan damai. Namun, ia mengingatkan bahwa terapi ini bukanlah pengganti pengobatan utama bagi gangguan kejiwaan berat. “Forest bathing cocok untuk stres ringan hingga sedang, seperti kelelahan emosional, kecemasan ringan, atau burnout,” jelas Widya seperti dikutip dari laman IPB University. Widya juga menyampaikan bahwa durasi forest bathing dapat bervariasi, mulai dari 50 menit hingga 24 jam, tergantung pada kebutuhan dan kondisi individu. Ia menekankan pentingnya melihat aktivitas memeluk pohon sebagai bagian dari praktik menyeluruh, bukan tindakan tunggal. Hingga kini, terdapat lebih dari 5.000 artikel terkait forest bathing atau shinrin yoku di Google Scholar, dengan penelitian utama berasal dari Jepang dan Korea Selatan. Sebuah makalah studi yang terbit di International Journal of Mental Health Nursing pada 2023 misalnya pernah menyelidiki empat basis data berbahasa Inggris dan lima non-Inggris (Tiongkok dan Korea) untuk studi peer-review yang diterbitkan antara Januari 2000 dan Maret 2021. "Tinjauan ini mematuhi rekomendasi dari Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-analysis Statement 2020," tulis para peneliti dalam makalah itu. Hasil utama yang dieksplorasi dalam tinjauan ini terutama bersifat psikologis, termasuk kecemasan, depresi, suasana hati dan kualitas hidup. Hasil sekunder adalah hasil fisiologis seperti tekanan darah dan detak jantung. Para peneliti menganalisisi 36 enam artikel ilmiah (21 dalam bahasa Inggris, 3 dalam bahasa Mandarin, dan 12 dalam bahasa Korea) dengan 3554 partisipan disertakan dalam tinjauan ini. "Meta-analisis kami menunjukkan bahwa forest bathing dapat secara signifikan mengurangi gejala depresi dan kecemasan. Namun, kami tidak menemukan banyak manfaat dalam hal hasil fisiologis," tulis mereka. Mereka menyimpulkan, "Dengan latar belakang dampak negatif urbanisasi terhadap kesejahteraan mental, tinjauan ini menyoroti potensi peran terapeutik hutan di dunia kontemporer, yang memberikan dukungan berbasis bukti lebih lanjut untuk konservasi hutan." Widya juga menggarisbawahi, “Forest bathing dapat menjadi bagian dari pendekatan holistik menjaga kesehatan mental, bersama olahraga, meditasi, dan terapi profesional." ---Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranala WhatsApp Channel https://shorturl.at/IbZ5i dan Google News https://shorturl.at/xtDSd. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat.