Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, Presiden Donald Trump kembali menjadi sorotan publik. Ia mencurahkan sebagian besar waktunya untuk menyerang sumber energi terbarukan dan mempertanyakan konsensus ilmiah mengenai perubahan iklim. Serangkaian klaim yang disampaikannya memicu kontroversi, terutama karena banyak di antaranya dianggap tidak berdasar dan bertentangan dengan data ilmiah serta ekonomi yang ada. Trump bahkan menyebut Perjanjian Paris sebagai "penipuan," mengklaim bahwa Amerika Serikat telah "dimanfaatkan oleh dunia selama bertahun-tahun." Klaimnya yang paling vokal menyebut energi bersih sebagai "lelucon" yang "terlalu mahal" dan tidak dapat diandalkan, serta menyalahkan para pemimpin Eropa yang "berjuang secara finansial" akibat adopsi energi terbarukan. Lebih jauh lagi, ia menuding PBB melebih-lebihkan dampak perubahan iklim dan mengklaim bahwa mengurangi emisi karbon akan mengorbankan lapangan kerja. Apakah semua klaim tersebut benar-benar mencerminkan kenyataan, ataukah ada fakta lain di balik narasi yang disampaikan presiden? Berikut ini hasil pemeriksaan fakta yang dilakukan oleh unit di ABC News. Menganalisis Kebenaran di Balik Pernyataan Trump Klaim Trump tentang energi terbarukan yang "tidak berfungsi" dan "terlalu mahal" ternyata jauh dari kenyataan. Menurut International Energy Agency (IEA), pada tahun 2024, 80% pertumbuhan pembangkit listrik global berasal dari sumber terbarukan dan nuklir, yang berkontribusi 40% dari total pembangkitan listrik dunia untuk pertama kalinya. Di Amerika Serikat sendiri, energi surya dan angin bahkan telah melampaui batu bara, menyumbang 16% dari listrik negara. Data dari International Renewable Energy Agency (IRENA) menunjukkan bahwa lebih dari 90% proyek energi terbarukan baru saat ini lebih murah daripada alternatif bahan bakar fosil. Rata-rata, proyek fotovoltaik surya (PV) 41% lebih murah, sementara proyek angin darat 53% lebih murah dibandingkan alternatif bahan bakar fosil berbiaya terendah. Meskipun Trump mengklaim bahwa Tiongkok tidak menggunakan teknologi angin yang mereka produksi, data IEA pada tahun 2024 menunjukkan energi surya dan angin menyumbang 20% dari pembangkit listrik Tiongkok. Walaupun Tiongkok masih menjadi konsumen batu bara terbesar di dunia, menyumbang 58% dari penggunaan batu bara global, mereka juga merupakan pemain utama dalam transisi energi bersih. Baca Juga: Banjir Bali: Bagaimana Perubahan Iklim Terus Memperburuk Bencana Alam? Tudingan Trump bahwa Eropa "berjuang secara finansial" karena energi terbarukan juga mendapat sanggahan. Pada 15 September 2025, Menteri Ekonomi dan Energi Federal Jerman, Katherina Reiche, menyatakan bahwa perluasan energi terbarukan adalah "kesuksesan besar," dengan 60% listrik Jerman berasal dari sumber bersih. Komitmen Jerman untuk mendapatkan 80% listrik dari energi terbarukan pada tahun 2030 tetap teguh, meskipun sang menteri mengakui adanya tantangan dalam transisi. Lebih lanjut, klaim Trump bahwa prediksi PBB tentang perubahan iklim adalah "penipuan terbesar" bertentangan dengan konsensus ilmiah yang luas. Ribuan ilmuwan di seluruh dunia, termasuk dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dan U.S. National Climate Assessment, sepakat bahwa perubahan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia, terutama emisi gas rumah kaca, dan menimbulkan risiko signifikan. Sebuah laporan dari National Academy of Sciences bahkan menyimpulkan bahwa temuan EPA tahun 2009 bahwa emisi gas rumah kaca mengancam kesehatan dan kesejahteraan manusia "akurat, telah teruji oleh waktu, dan sekarang diperkuat oleh bukti yang lebih kuat." Mengenai klaim bahwa mengurangi emisi karbon akan mengorbankan pekerjaan, data yang ada justru menunjukkan sebaliknya. Menurut organisasi nirlaba lingkungan E2, pekerjaan energi bersih tumbuh lebih dari tiga kali lebih cepat daripada sisa ekonomi AS pada tahun 2024. Selama lima tahun terakhir, lebih dari 500.000 pekerjaan energi bersih telah ditambahkan, melampaui pertumbuhan di sektor bahan bakar fosil. Tahun lalu, 82% dari semua pekerjaan baru di sektor energi berasal dari bidang energi bersih. Sementara itu, pernyataan Trump tentang 175.000 kematian akibat panas di Eropa karena mahalnya AC juga perlu diklarifikasi. World Resources Institute mencatat bahwa meskipun Eropa memang tertinggal dalam penggunaan AC, hal ini disebabkan oleh banyak faktor, termasuk desain bangunan yang tidak siap menghadapi musim panas yang kian ekstrem. Badan Perubahan Iklim Eropa, Copernicus, melaporkan bahwa Eropa menghangat dua kali lebih cepat dari rata-rata global sejak tahun 1980-an, menjadikan kebutuhan akan pendingin udara sebagai isu yang relatif baru. Terakhir, klaimnya tentang "batu bara yang bersih dan indah" pun tidak sepenuhnya akurat. Meskipun upaya Clean Air Act dan Clean Water Act telah mengurangi polutan seperti nitrogen oksida dan sulfur dioksida, pembakaran batu bara tetap melepaskan emisi gas rumah kaca signifikan, yaitu karbon dioksida (CO2). Menurut EPA, pada tahun 2022, batu bara bertanggung jawab atas 55% emisi CO2 di AS, meskipun hanya mewakili 20% dari produksi listrik. Ini menunjukkan bahwa meskipun kontrol polusi telah ada, isu mendasar tentang emisi CO2 yang memicu perubahan iklim tetap tidak terpecahkan. ---Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranala WhatsApp Channel https://shorturl.at/IbZ5i dan Google News https://shorturl.at/xtDSd. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat.