Black mamba (Dendroaspis polylepis), salah satu ular paling mematikan di dunia yang hidup di Afrika. Meski namanya black mamba, warna tubuhnya justru cenderung abu-abu, cokelat, atau hijau zaitun. Sebutan itu muncul karena bagian dalam mulutnya hitam legam, yang akan ditunjukkannya ketika merasa terancam Di alam liar, ia dapat tumbuh sepanjang dua hingga tiga meter. Bahkan, beberapa individu bisa mencapai lebih dari empat meter. “Black mamba adalah spesies ular berbisa terpanjang di Afrika, dan terpanjang kedua di dunia,” jelas Sara Viernum, ahli herpetologi dari Madison, seperti dikutip dari Live Science.  Bukan hanya ukurannya yang menakjubkan, tetapi juga kecepatannya. “Mereka bisa meluncur hingga 19 kilometer per jam,” tambah Viernum, meski ia menegaskan bahwa kecepatan itu biasanya dipakai untuk kabur, bukan mengejar manusia. Akan tetapi, bahaya sebenarnya terletak pada racunnya.  Ryan Blumenthal, ahli toksikologi dari University of Pretoria, mengingatkan, “Hanya dua tetes bisa black mamba sudah cukup untuk membunuh orang dewasa.” Racunnya adalah neurotoksin yang menyerang sistem saraf dan kardiotoksin yang melumpuhkan jantung. Tanpa penanganan medis, kematian bisa terjadi dalam hitungan menit. Black mamba sebagai detektor polusi alami Meski reputasinya menakutkan, black mamba kini dapat digunakan sebagai detektor polusi alami. Penelitian yang dipimpin oleh Marc Humphries, profesor kimia lingkungan dari University of the Witwatersrand, menemukan bahwa sisik ular ini mampu menyerap logam berat berbahaya seperti timbal dan arsenik.  Dilansir dari laman Eurekalert, penelitian ini dilakukan pada ular-ular black mamba di Durban, KwaZulu-Natal. Ini merupakan studi pertama yang meneliti penumpukan logam berat pada spesies ular Afrika. Hasilnya menunjukkan bahwa para peneliti bisa memanfaatkan potongan kecil sisik ular untuk mengukur tingkat polusi di suatu wilayah dengan akurat, tanpa harus melukai ular itu sendiri. “Black mamba cukup umum di kawasan Durban, dan seekor individu bisa menempati tempat perlindungan yang sama selama bertahun-tahun,” jelas Profesor Graham Alexander, ahli herpetologi dari Wits. “Jika jaringan tubuh mereka mengandung kadar logam berat tinggi, itu merupakan tanda kuat bahwa lingkungan sekitarnya sedang terancam.” Sebagai predator puncak, black mamba memangsa berbagai hewan lain seperti burung dan tikus. Polutan yang masuk ke tubuh burung dan tikus melalui makanan akhirnya menumpuk dalam jaringan tubuh black mamba. Tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Marc Humphries, ahli kimia lingkungan dari Wits, menganalisis potongan sisik ular hidup yang dipindahkan dari kawasan pemukiman, industri, dan komersial oleh pakar ular Nick Evans dari KwaZulu-Natal Amphibian and Reptile Conservation.  Mereka juga meneliti sampel jaringan dari mamba yang mati akibat kecelakaan lalu lintas atau konflik dengan manusia. Hasilnya, ular yang ditemukan di kawasan industri dan komersial memiliki kadar logam jauh lebih tinggi dibandingkan ular dari kawasan konservasi dan ruang hijau seperti jaringan Durban’s Metropolitan Open Space System (D’MOSS). Baca Juga: Bagaimana Kepunahan Massal Dinosaurus Menentukan Pola Makan Ular? Temuan ini menegaskan pentingnya ruang hijau yang saling terhubung di sekitar kota, karena mampu melindungi satwa liar dari polusi berbahaya akibat pembangunan perkotaan. “Kami menemukan hubungan jelas antara penggunaan lahan dan paparan logam berat pada black mamba. Ular yang hidup di ruang hijau yang saling terhubung di sekitar kota umumnya memiliki konsentrasi logam berat di sisik yang jauh lebih rendah, dibandingkan ular di kawasan industri dan komersial,” kata Humphries. “Yang menarik, semua informasi ini bisa diperoleh hanya dari potongan sisik kecil yang diambil dengan cepat dan tanpa menyakiti ular,” tambah Humphries. “Metode ini aman bagi ular dan berpotensi digunakan di kota-kota di seluruh Afrika, tempat ular sudah sering dipindahkan dari rumah maupun area bisnis.” Temuan tersebut dipublikasikan dalam studi “Black mambas (Dendroaspis polylepis) as novel bioindicators of urban heavy metal pollution” yang terbit di jurnal Environmental Pollution.  Sementara di lapangan, para konservasionis juga melihat sisi lain black mamba. Nick Evans, pakar reptil dari KwaZulu-Natal, Afrika Selatan, mengatakan bahwa gigitan black mamba yang tidak diprovokasi sangat jarang terjadi, dengan sekitar 3 hingga 5 gigitan terjadi per tahun. “Hampir semua korban gigitan selamat, asalkan segera dibawa ke rumah sakit. Banyak gigitan hanyalah ‘dry bite’, gigitan peringatan tanpa racun,” ungkapnya. Berdasarkan fakta-fakta yang ada, black mamba sebenarnya bukan sekadar simbol ketakutan. Ia adalah predator yang berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem dengan memangsa tikus dan hewan pengerat. Black mamba juga dapat digunakan sebagai “detektor alami” yang membantu ilmuwan membaca kondisi lingkungan.  ---Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranala WhatsApp Channel https://shorturl.at/IbZ5i dan Google News https://shorturl.at/xtDSd. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat.